Minggu, 18 Desember 2011

Stainless Steel


Mengapa Stainless Steel Tidak Berkarat ?


Stainless steel dapat bertahan dari serangan karat berkat interaksi bahan-bahan campurannya dengan alam. Stainless steel terdiri dari besi (Fe), krom(Cr), mangan(Mn), silicon(Si), karbon(C) dan seringkali nikel(Ni) dan molybdenum(Mo) dalam jumlah yang cukup banyak.
Elemen-elemen ini bereaksi dengan oksigen yang ada di air dan udara membentuk sebuah lapisan yang sangat tipis dan stabil yang mengandung produk dari proses karat/korosi yaitu metal oksida dan hidroksida. Krom, bereaksi dengan oksigen, memegang peranan penting dalam pembentukan lapisan korosi ini. Pada kenyataannya, semua stainless steel mengandung paling sedikit 10% krom.
Keberadaan lapisan korosi yang tipis ini mencegah proses korosi berikutnya dengan berlaku sebagai tembok yang menghalangi oksigen dan air bersentuhan dengan permukaan logam. Hanya beberapa lapisan atom saja cukup untuk mengurangi kecepatan proses karat selambat mungkin karena lapisan korosi tersebut terbentuk dengan sangat rapat. Lapisan korosi ini lebih tipis dari panjang gelombang cahaya sehingga tidak mungkin untuk melihatnya tanpa bantuan instrumen moderen.
Besi biasa, berbeda dengan stainless steel, permukaannya tidak dilindungi apapun sehingga mudah bereaksi dengan oksigen dan membentuk lapisan Fe2O3 atau hidroksida yang terus menerus bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Lapisan korosi ini makin lama makin menebal dan kita kenal sebagai ‘karat’.
Stainless steel, dapat bertahan ‘stainless’ atau ‘tidak bernoda’ justru karena dilindungi oleh lapisan karat dalam skala atomic.[MS](dr berbagai sumber)

Tokoh KIMIA


Jabir Ibn Hayyan

Seorang tokoh besar yang dikenal sebagai "the father of modern chemistry".
Jabir Ibn Hayyan (keturunan Arab, walaupun sebagian orang menyebutnya keturunan Persia), merupakan seorang muslim yang ahli dibidang kimia, farmasi, fisika, filosofi dan astronomi.
Jabir Ibn Hayyan (yang hidup di abad ke-7) telah mampu mengubah persepsi tentang berbagai kejadian alam yang pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diprediksi, menjadi suatu ilmu sains yang dapat dimengerti dan dipelajari oleh manusia.
Penemuan-penemuannya di bidang kimia telah menjadi landasan dasar untuk berkembangnya ilmu kimia dan tehnik kimia modern saat ini.
Jabir Ibn Hayyan-lah yang menemukan asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, tehnik distilasi dan tehnik kristalisasi. Dia juga yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.
Jabir Ibn Hayyan mampu mengaplikasikan pengetahuannya di bidang kimia kedalam proses pembuatan besi dan logam lainnya, serta pencegahan karat. Dia jugalah yang pertama mengaplikasikan penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca.
Jabir Ibn Hayyan juga pertama kali mencatat tentang pemanasan wine akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.
Jika kita mengetahui kelompok metal dan non-metal dalam penggolongan kelompok senyawa, maka lihatlah apa yang pertamakali dilakukan oleh Jabir. Dia mengajukan tiga kelompok senyawa berikut:
1) "Spirits" yang menguap ketika dipanaskan, seperti camphor, arsen dan amonium klorida.
2) "Metals" seperti emas, perak, timbal, tembaga dan besi; dan
3) "Stones" yang dapat dikonversi menjadi bentuk serbuk.

Salah satu pernyataannya yang paling terkenal adalah: "The first essential in chemistry, is that you should perform practical work and conduct experiments, for he who performs not practical work nor makes experiments will never attain the least degree of mastery."
Pada abad pertengahan, penelitian-penelitian Jabir tentang Alchemy diterjemahkan kedalam bahasa Latin, dan menjadi textbook standar untuk para ahli kimia eropa. Beberapa diantaranya adalah Kitab al-Kimya (diterjemahkan oleh Robert of Chester - 1144) dan Kitab al-Sab'een (diterjemahkan oleh Gerard of Cremona - 1187). Beberapa tulisa Jabir juga diterjemahkan oleh Marcelin Berthelot kedalam beberapa buku berjudul: Book of the Kingdom, Book of the Balances dan Book of Eastern Mercury. Beberapa istilah tehnik yang ditemukan dan digunakan oleh Jabir juga telah menjadi bagian dari kosakata ilmiah di dunia internasional, seperti istilah "Alkali", dsb (chem.-is-try.org)

Selasa, 13 Desember 2011

RA Kartini


RA Kartini
Tanggal 21 April yang telah ditetapkan pemerintah sebagai salah satu hari besar nasional merupakan hari kelahiran Raden Ajeng Kartini yang untuk memperingatinya digelar berbagai macam kegiatan dan acara dengan tema emansipasi wanita. Kartini dijuluki sebagai perintis perjuangan emansipasi yang selanjutnya berkembang menjadi gerakan feminisme. Julukan ini didasarkan pada surat-surat yang ditulis Kartini kepada teman-temannya yang terangkum dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Sebagian kecil kisah hidupnya dan pemikirannya tertulis dalam surat-surat tersebut. Namun, makna keseluruhan dan terpenting dari sebagian besar kisah hidupnya tak sehebat pemikiran feminismenya.
PEMIKIRAN KARTINI
Apa yang terlanjur lekat dengan sosok Kartini sebenarnya hanyalah sebagian proses hidupnya yang gelisah. Akhir proses kartini tak banyak terungkap. Pemikiran pada awal prosesnya-lah yang terlanjur lantang disuarakan sehingga lekat pada namanya. Padahal, menjelang akhir hayatnya, Pemikiran kartini telah banyak berubah.
Tidak  bisa disalahkan kalo ada orang yang beranggapan Kartini memperjuangkan emansipasi, mendobrak adat, dan berkiblat ke Barat, serta mengkritisi Islam. Pada awalnya, Kartini emang demikian. Inilah contoh surat-suratnya:
"…Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik, orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi pula, dialah orang Eropa" [surat kepada Stella, 25 Mei 1899]
"Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah aku pilih." [surat kepada Ny Ovinksoer, 1900]
“…bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Al Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang di sini membaca Al Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang yang diajar membaca tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya…”[kepada Stella, 06 November 1899]
Dari petikan surat di atas, dianggap bahwa Kartini menentang adat, menghadap ke barat (Eropa) dan mengecilkan Islam. Dapat dikatakan bahwa pemikiran Kartini ini didasarkan pada kondisinya yang berasal dari keluarga ningrat dan keadaan bangsa Indonesia pada saat itu. Kita ketahui bersama bahwa pada masa penjajahan Belanda yang diperbolehkan “makan bangku sekolahan” hanyalah golongan orang-orang tertentu. Yang tentunya dengan ini, teman-teman Kartini berasal dari keluarga terpandang dan juga orang Belanda (Eropa). Kemudian pada masa penjajahan Belanda, tidak diperbolehkan penterjemahan Al Quran sehingga hal ini mewajarkan ketidaktahuan tentang agama Islam itu sendiri
Tidak heran kalo Kartini punya pemikiran demikian. Teman surat-menyurat Kartini kebanyakan adalah orang barat yang hendak membaratkan kaum ningrat di Indonesia, dimana tujuan akhirnya adalah agar mereka tidak melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda pada jaman tersebut. Mari kita simak teman-teman korespodensi Kartini.  siapa sajakah mereka..?.
1. J.H. Abendon
Abendon ditugaskan oleh Belanda sebagai Direktur Deptemen Pendidikan, Agama, dan Kerajinan. Abendon banyak meminta nasihat dari Snouck Hurgronye (seorang orientalis). Menurut Hurgronye, golongan yang paling keras menentang penjajah Belanda adalah golongan Islam. Memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi adalah cara yang paling jitu untuk mengatasi pengaruh Islam. Tidak mungkin membaratkan rakyat, kecuali jika ningratnya telah dibaratkan. Untuk tujuan itu, langkah pertama yang harus diambil adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang menganut agama Islam untuk kemudian dibaratkan. Dan Hurgronye menyarankan Abendanon untuk mendekati Kartini.
 
2. Stella (Estelle Zeehandelaar)
Seorang wanita Yahudi, anggota militan pergerakan feminis di negeri Belanda saat itu.
3. Nellie Van Kol (Ny. Van Kol)
Ia adalah seorang penulis yang mempunyai pendirian humanis dan progresif. Dialah orang yg paling berperan dalam mendangkalkan aqidah Kartini. Pada awalnya, ia bermaksud untuk memurtadkan Kartini dengan kedatangannya seolah-olah sebagai penolong yang mengangkat Kartini dari ketidakpeduliannya terhadap agama.
AKHIR PEMIKIRAN KARTINI
Namun, hidayah    akhirnya   menghampiri Kartini melalui pengajian tentang tafsir Al-Fatihah yang disampaikan Kyai Soleh Darat bertempat di rumah paman Kartini – seorang Bupati Demak –. Dari perbincangannya dengan Kartini, akhirnya Kyai Soleh menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Jawa dari surat Al Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama wanita lain dari balik tabir. Kartini tertarik kepada materi  yg sedang diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh Kyai Saleh Darat. Setelah selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat.
Dalam usianya begitu muda ia bahkan telah dapat menginspirasikan sebuah pekerjaan besar bagi umat Islam di tanah Jawa waktu itu, yaitu terjemahan atau intepretasi kandungan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa yang belum ada waktu itu kepada seorang ulama besar dari Semarang, KH Muhammad Soleh bin Umar (Ida S. Widayanti, Majalah Suara Hidayatullah : April 2001). Berkat pertemuannya dengan Kartini, Kiai Soleh tergugah untuk menterjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa. Hasil terjemahan al-Qur'an (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran) jilid ke I yang terdiri dari (hanya) 13 juz yang kemudian diberikannya sebagai hadiah pernikahan Kartini. Bayangkan sebuah hadiah perkawinannya adalah sebuah karya besar bagi sebuah komunitas besar manusia.. Sayang Kiai Soleh wafat sebelum menyelesaikan pekerjaan besar itu.
Dan dari terjemahan tersebut, pemikiran-pemikiran awal Kartini juga pandangannya tentang Barat (asumsi orang terbaik adalah orang Eropa)  berangsur luntur.
Hal ini dapat diketahui dari petikan suratnya yang ditujuakan kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902 “… moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai…”
Selain faktor teman buruk, kaum muslim di sekeliling Kartini juga punya pemahaman yang salah terhadap Islam. Mereka mengajarkan Islam tanpa memahamkan apa yang diajarkan. coba kita simak surat kartini kepada stella berikut ini.
"Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Al Qur'an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Disini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang disini belajar membaca Al Qur'an tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yg dibacanya." [surat kepada Stella, 6 Nov 1899]
Perlu diketahui pada waktu pemerintahan Hindia Belanda umat muslim memang dibolehkan mengajarkan Al Qur'an dengan syarat nggak diterjemahin alias cuma belajar baca huruf arab (pengaruh ini masih dapat kita jumpai saat ini, dimana belajar Al-quran dianggap selesai ketika telah mampu membaca Al-quran dengan lancar sampai akhir walaupun tidak paham makna-nya –khataman-). Dan ini memang taktik belanda agar orang-orang Indonesia tidak paham terhadap Al-quran dan akhirnya mereka tidak akan angkat senjata kepada penjajah belanda.
Kartini menceritakan bahwa selama hidupnya baru kali itulah dia sempat mengerti makna dan arti surat Al Fatihah, yang isinya begitu indah menggetarkan hati. Kemudian atas permintaan Kartini, Kyai Sholeh diminta menerjemahkan Al Qur'an dalam bahasa Jawa di dalam sebuah buku berjudul Faidhur Rahman Fit Tafsiril Quran jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai surat Al Fatihah hingga surat Ibrahim. Buku itu dihadiahkan kepada Kartini saat dia (Kartini) menikah dengan R. M. Joyodiningrat, Bupati Rembang.
Kyai Sholeh meninggal saat baru menerjemahkan jilid pertama tersebut. Namun, Kartini hal ini sudah cukup membuka pikiran Kartini dalam mengenal Islam.
Sebenarnya ungkapan Habis Gelap Terbitlah Terang itu sebenarnya Kartini temukan dalam surat Al Baqarah ayat 257, yaitu firman Allah"…minazh-zhulumaati ilan-nuur" yang artinya "dari kegelapan-kegelapan (kekufuran) menuju cahaya (Islam)". Oleh Kartini diungkapkan dalam bahasa Belanda "Door Duisternis Tot Licht". dan kemudian oleh Armien pane yang menerjemahkan kumpulan surat-surat Kartini diungkapkan menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang"
 
Kartini kemudian merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh pejuang feminisme dan emansipasi saat ini (sebenarnya lebih cocok disebut sebagai westernisasi) , namun agar para wanita lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai Ibu. Kartini menulis dalam suratnya:
"Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. " [kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902]
Dan tidak hanya itu, pandangannya terhadap Barat pun berubah. Kartini menulis;
"Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami   tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah" [kpd Ny. Abendanon, 12 Okt 1902]
"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat Ibu, terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" [surat kepada Ny. Abendanon, 27 Okt 1902]
                Kartini meninggal dalam usia muda 25 thn, empat hari setelah melahirkan putranya. Ia tak sempat belajar Islam lebih dalam. namun yang patut disayangkan kebanyakan orang mengetahui Ibu Kartini hanyalah sekedar pejuang emansipasi wanita. Banyak orang yang nggak tahu perjalanan Kartini menemukan Islam dan perubahan pola pikirnya. [WF] (dari berbagai sumber)

Kebenaran Al Qur’an


Kebenaran Al Qur’an
1400 tahun yang lalu Alah telah memberitahukan bahwa Al Qur’an merupakan kebenaran yang sangat pasti, tidak ada sedikitpun Syak atau keraguan didalamnya, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah sendiri dalam QS Albaqoroh ayat 2, yang berbunyi(terjemahannya): “Kitab Alquran tidak ada keraguan yang akan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Bagi orang-orang yang telah yaqin dengan islam maka ia langsung menerima segala sesuatu yang diberitakan oleh al Qur’an melalui rosulnya. Menjadi petunjuk dalam segala amal perbuatannya, menjadi kiblat dalam mengkaji ilmu-ilmu penciptaan, menjadi acuan yang wajib bagi orang yang sudah bertaqwa. Salah satu ciri kemukjizatan Al-Quran ada di dalam ilmu yang dibawanya. Allah s.w.t. berfirman:
  “(Orang-orang kafir itu tidak mau mengakui apa yang telah diturunkan Allah kepadamu wahai Muhammad), tetapi Allah sentiasa menjadi saksi akan kebenaran Al-Quran yang telah diturunkanNya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmuNya, dan malaikat juga turut menjadi saksi. Dan cukuplah Allah menjadi saksi (akan kebenaran Al-Quran ini).” (Al-Quran Surah An-Nisaa’, 4: Ayat 166).
Sehubungan dengan itu, para ahli sains dan para pakar ilmu- professor dari banyak universitas-universitas- telah banyak mengkaji ilmu-ilmu yang dibentangkan Al-Quran itu. Dewasa ini, para ahli sains telah mendapatkan kebenaran dalam kajian mengenai angkasaraya, walaupun Al-Quran telah pun membicarakan persoalan angkasaraya dan manusia sejak dahulu lagi. Jadi, apakah hasilnya? Seorang profesor Emeritus Keith Moore, salah seorang saintis terkenal di bidang kajian tubuh manusia (‘anatomy’) dan kajian embrio (‘embryology’). Beliau membentangkan analisa saintifiknya mengenai beberapa ayat-ayat Al-Quran dan Hadis-hadis terutama yang berkaitan dengan bidang kepakaran beliau. Profesor Moore ialah penulis buku berjudul “The Developing Human” (“Manusia Yang Sentiasa Berkembang”). Beliau ialah seorang Profesor Emeritus di bidang kajian tubuh manusia dan biologi sel (‘Anatomy and Cell Biology’) di Univeristy of Toronto, Kanada. Disitu, dia juga pernah menetap sebagai Dekan Madya di Jabatan Sains Asas, Selain itu, beliau juga pernah menetap di University of Winnipeg, Kanada selama 11 tahun. Beliau pernah mengetua-i persatuan-persatuan pakar-pakar kajian tubuh-manusia antarabangsa, terpilih untuk meng-anggota-i Akademi Antarabangsa Cytology, Persatuan Pakar Tubuh-manusia Amerika, dan Persekutuan Pakar Tubuh-manusia Amerika Utara dan Selatan. Pada tahun 1984, Profesor Moore telah menerima gelar paling dihormati di bidang kajian tubuh-manusia di Kanada, yaitu  gelar ‘J.C.B Grant Award’ dari Persatuan Pakar Tubuh-manusia Kanada.
  Beliau telah menulis banyak buku-buku berkenaan kajian tubuh-manusia klinikal dan kajian embrio.
  Apabila diminta memberikan analisa mengenai ayat-ayat Al-Quran dan Hadis, Profesor Moore merasa takjub. Beliau tidak mengerti bagaimana Nabi Muhammad s.a.w. yang hidup 14 abad yang lalu, berupaya menerangkan mengenai embrio dan perkembangannya dengan terperinci dan tepat sekali tentang fakta-fakta yang diketahui ahli-ahli sains hanya sejak 30 tahun yang lalu. Perasaan takjubnya bertukar kepada hormat kepada ayat-ayat Al-Quran dan Hadis itu. Beliau memperkenalkan pula perkara itu kepada para ahli ilmu dan ahli sains lain. Malahan beliau telah memberikan satu ceramah khusus mengenai keserasian di antara kajian embrio modern dan Al-Quran dan Hadis dimana beliau berkata:
  “Saya merasa amat bergembira karena diberi peluang membantu menerangkan ayat-ayat Al-Quran berkenaan pembentukan manusia. Bagi saya ayat-ayat Al qur’an sesuatu yang amat nyata bahwa ayat-ayat ini telah diwahyukan kepada Muhammad (sallallahu'alaihiwassalam-pent) oleh Allah, atau Tuhan, kerana kebanyakan dari fakta-fakta ini tidak ditemui melainkan setelah beberapa kurun setelah itu (setelah riwayat hidup Rasulullah s.a.w.-pen). Ini membuktikan kepada saya bahawa Muhammad ialah seorang Rasul Allah.
  Lihat lah bagaimana pakar embrio terkenal itu berkata setelah mengkaji ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan bidang kepakarannya, dan tengoklah kesimpulan beliau bahawa Nabi Muhammad s.a.w. ialah seorang Rasul utusan Allah s.w.t
  Allah berfirman (Surah Al-Mu’minun, 23: Ayat 12-14), artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”
  Bahasa Arab ‘alaqah’ mempunyai tiga makna. Yang pertama ialah ‘lintah’. Yang kedua ialah ‘sesuatu yang tergantung’. Yang ketiga ialah segumpal darah. Bila membandingkan di antara lintah (air-tawar) dengan embrio ketika peringkat ‘alagah’, Professor Moore mendapati satu persamaan yang tepat diantara kedua-duanya. Beliau membuat kesimpulan bahawa embrio di peringkat ‘alaqah’ berbentuk sama dengan bentuk lintah. Profesor Moore meletakkan gambar embrio berdekatan dengan gambar lintah (Lihat gambar).


 


Beliau membentangkan gambar-gambar ini kepada ahli-ahli sains apabila di dalam pertemuan-pertemuan.



    Makna kedua perkataan ‘alaqah’ ialah ‘sesuatu yang tergantung’, dan inilah yang sekarang kita saksikan. Yaitu embrio memang tergantung di rahim ibunya (‘uterus or womb’) ketika peringkat ‘alaqah’. Makna ketiga perkataan ‘alaqah’ ialah segumpal darah. Profesor Moore menerangkan ketika peringkat ‘alaqah’, embrio melalui beberapa kejadian. Contohnya pembentukan darah di dalam satu tempat tertutup (‘closd vessel’) sehinggalah metabolik telah sempurna melalui ‘placenta’. Ketika peringkat ‘alaqah’, darah terpencil di dalam satu tempat yang tertutup. Justeru, embrio berbentuk seperti segumpal darah disamping seperti lintah. Kedua-dua bentuk itu dinyatakan oleh satu perkataan Al-Quran berbunyi ‘alaqah’.
  Bagaimana Nabi Muhammad s.a.w. mengetahui kesemua itu? Profesor Moore juga mengkaji embrio ketika peringkat ‘mudghah’ (sesuatu yang dimamah/dikunyah). Beliau megambil raw ‘clay’ [semacam permen karet] dan memamahnya/mengkunyahnya. Kemudian beliau membandingkannya dengan gambar embrio ketika peringkat ‘mudghah’. Profesor Keith Moore berkesimpulan bahwa embrio di peringkat ‘mudghah’ berbentuk seperti sesuatu yang dimamah. 

 Beberapa penerbitan Kanada telah menyiarkan Pernyataan Profesor Moore. Selain itu, beliau juga mempersembahkan tiga program televisi dimana beliau membicarakan keserasian di antara sains modern dan ayat-ayat Al-Quran yang telah diturunkan 1400 tahun dahulu.



  Kemudiannya beliau ditanya satu pertanyaan: “Apakah ini berarti anda percaya Al-Quran ialah wahyu Allah?”.
Beliau menjawab: “Tidak sukar untuk saya mempercayainya”. Beliau juga ditanya: “Bagaimana anda mempercayai kerasulan Muhammad sedangkan pada masa yang sama anda mepercayai Isa?”
Beliau menjawab: “Saya yakin mereka berdua datang dari sumber yang sama”.  Justru ahli sains modern seluruh dunia hari ini mengetahui bahwa Al-Quran ialah wahyu Allah s.w.t.
  Itulah yang Allah s.w.t. firmankan di dalam Al-Quran (Surah 4:166) artinya;
  “(Orang-orang kafir itu tidak mau mengakui apa yang telah diturunkan Allah kepadamu wahai Muhammad), tetapi Allah sentiasa menjadi saksi akan kebenaran Al-Quran yang telah diturunkanNya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmuNya, dan malaikat juga turut menjadi saksi. Dan cukuplah Allah menjadi saksi (akan kebenaran Al-Quran ini).”
  Oleh karena itu, tidak sukar untuk ahli-ahli sains modern menerima hakikat bahwa Nabi Muhammad s.a.w. ialah seorang rasul Allah sallallahu'alaihiwasallam. Maka sejak saat itu beliau mengikrarkan dua kalimah syahadah: Asyhadu anlaa ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadarosulullah. Menyerahkan semua kekayakinannya kepada kebenaran yang berara dalam Al Qur’an dan mengingkari teori evolusi darwinwinisme [MS]