Jumat, 20 Januari 2012

UJIAN PRAKTIK


A.    SKL UJIAN PRAKTIKUM KIMIA

No
Judul
Materi
Kompetensi
Indicator

1
Reaksi Redoks
Reaksi Redoks dan Elektrokimia
Menerapkan konsep reaksi oksidasi-reduksi dalam sistem elektrokimia yang melibatkan energi listrik dan kegunaannya dalam mencegah korosi dan dalam industry
Siswa dapat mengamati dan menentukan reaksi redoks dan reaksi bukan redoks
2
Suhu mempengaruhi laju reaksi
Laju reaksi
Menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dan menyimpulkan hasilnya
Siswa dapat mengukur laju reaksi dalam berbagai temperature zat pereaksi
3
Konsentrasi mempengaruhi laju reaksi
Laju reaksi
Menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dan menyimpulkan hasilnya
Siswa dapat menentukan laju reaksi dalam berbagai konsentrasi pereaksi
4
Uji daya hantar listrik
Larutan elektrolit dan larutan non elektrolit
Mengidentifikasi  sifat larutan non-elektrolit dan elektrolit berdasarkan data hasil percobaan
Siswa dapat mengamati gejala-gejala hantaran arus listrik dalam berbagai larutan
5
Titrasi
Titrasi
Menentukan konsentrasi suatu larutan dengan titrasi dengan larutan baku
Siswa dapat menentukan konsentrasi suatu larutan dengan cara titrasi
6
Uji albumin pada putih telur
Asam amino dan protein
Mendiskripsikan struktur, tata nama, klasifikasi, sifat dan kegunaan makromolekul (polimer, karbohidrat, protein
Siswa dapat mengidentifikasi adanya albumin dalam putih telur dengan pereaksi Xantoproteat


B.     JADWAL UJIAN
Ujian praktik kelas XII IPA periode 2011-2012 dilaksanakan sesuai dengan jadwal sebagai berikut:
Kelas
Tanggal Pelaksanaan
Waktu
Tempat
XII IPA 1
Sabtu, 28 Jan 2012
12.00 -  selesai
Lab Kimia
XII IPA 2
Sabtu, 21 Jan 2012
12.00 -  selesai
Lab Kimia
XII IPA 3
Sabtu, 4 Feb  2012
12.00 -  selesai
Lab Kimia
XII IPA 4
Sabtu, 11 Feb 2012
12.00 -  selesai
Lab Kimia

Jumat, 13 Januari 2012

Jabir Ibnu Hayyan : Ahli Kimia Abad 8 M

Jauh sebelum berkembang pesat seperti sekarang, ilmu kimia telah dikenal luas masyarakat abad pertengahan. Saat itulah awal mula cabang ilmu eksakta ini ada. Tapi, tahukah Anda siapa penemu dan pengembang ilmu kimia ini? Adalah Abu Musa Jabir Ibn Hayyan (721-815 H), ilmuwan Muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan disiplin ilmu kimia tersebut di abad ke-8 M jauh sebelum ahli kimia barat bernama John Dalton (1766 – 1844) mencetuskan teori molekul kimia.
Hebatnya lagi, penemuan dan eksperimennya yang telah berumur 13 abad itu ternyata hingga kini masih tetap dijadikan rujukan. Dedikasinya dalam pengembangan ilmu kimia sungguh tak ternilai harganya. Tak heran, jika ilmuwan yang juga ahli farmasi itu dinobatkan sebagai renaissance man (manusia yang mencerahkan).
Lahir di pusat peradaban Islam klasik, Kuffah (Irak), ilmuwan Muslim ini lebih dikenal dengan nama Ibnu Hayyan, dan di Barat disebut dengan nama Ibnu Geber. Ayahnya, seorang penjual obat, Jabir kecil menerima pendidikannya dari imam terkenal, Imam Ja'far Shadiq as. Ia juga pernah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Harun Al Rasyid.
Sebagai anak bungsu dalam keluarganya, dia sering dimanjakan oleh saudara-saudaranya yang lain. Meskipun demikian, Jabir lebih suka menyendiri sambil memperhatikan fenomena alam dari awal dan tentang dunia kehidupan. Dia sering meneliti ikan di sungai Hiri Rud, membuat penelitian ke hutan belantara di sekitar Tus serta kebun-kebun yang dipenuhi oleh tumbuhan dan binatang serta unggas.
Ditemukannya kimia oleh Hayyan ini membuktikan, bahwa ulama di masa lalu tidak melulu lihai dalam ilmu-ilmu agama, tapi sekaligus juga menguasai ilmu-ilmu umum. "Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan sumbangannya yang terbesar di bidang kimia," tulis sejarawan Barat, Philip K. Hitti, dalam History of The Arabs.
Berkat penemuannya ini pula, Jabir dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern. Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Jabir mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani.
Adalah menjadi kebiasaannya mengakhiri uraian suatu eksperimen dengan menuliskan:
"Saya pertama kali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya, dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin, dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam."
Dari Damaskus ia kembali ke kota kelahirannya, Kuffah. Setelah 200 tahun kewafatannya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya yang telah punah, ditemukan. Di dalamnya didapati peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona, dan sebatang emas yang cukup berat.
Jabir ibnu Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Semua ini telah ia siapkan tekniknya, praktis hampir semua 'technique' kimia modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan tak langsung yang memakai bejana kering. Dialah yang pertama mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.
Khusus menyangkut fungsi dua ilmu dasar kimia, yakni kalsinasi dan reduksi, Jabir menjelaskan, bahwa untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda penguapan, sublimasi, destilasi, penglarutan, dan penghabluran. Setelah itu, papar Jabir, memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap tidak berubah sejak awal abad ke 18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen. Metode inilah yang mengantarkannya menjadi ilmuwan besar Islam yang mewarnai renaissance dunia Barat.
Namun demikian, Jabir tetap saja seorang yang tawadu' dan berkepribadian mengagumkan. "Dalam mempelajari kimia dan ilmu fisik` lainnya, Jabir memperkenalkan eksperimen objektif, suatu keinginan memperbaiki ketidakjelasan spekulasi Yunani. Akurat dalam pengamatan gejala, dan tekun mengumpulkan fakta. Berkat dirinya, bangsa Arab tidak mengalami kesulitan dalam menyusun hipotesa yang wajar," tulis Robert Briffault.
Menurut Briffault, kimia, proses pertama penguraian logam yang dilakukan oleh para metalurg dan ahli permata Mesir, mengkombinasikan logam dengan berbagai campuran dan mewarnainya, sehingga mirip dengan proses pembuatan emas. Proses demikian, yang tadinya sangat dirahasiakan, dan menjadi monopoli perguruan tinggi, dan oleh para pendeta disamarkan ke dalam formula mistik biasa, di tangan Jabir bin Hayyan menjadi terbuka dan disebarluaskan melalui penyelidikan, dan diorganisasikan dengan bersemangat.

Terobosan Jabir lainnya dalam bidang kimia adalah preparasi asam sendawa, hidroklorik, asam sitrat dan asam tartar. Penekanan Jabir di bidang eksperimen sistematis ini dikenal tak ada duanya di dunia. Inilah sebabnya, mengapa Jabir diberi kehormatan sebagai 'Bapak Ilmu Kimia Modern' oleh sejawatnya di seluruh dunia. Dalam tulisan Max Mayerhaff, bahkan disebutkan, jika ingin mencari akar pengembangan ilmu kimia di daratan Eropa, maka carilah langsung ke karya-karya Jabir Ibn Hayyan.
Puaskah Jabir? Tidak! Ia terus mengembangkan keilmuannya sampai batas tak tertentu. Dalam hal teori keseimbangan misalnya, diakui para ilmuwan modern sebagai terobosan baru dalam prinsip dan praktik alkemi dari masa sebelumnya. Sangat spekulatif, di mana Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem numerologi (studi mengenai arti klenik dari sesuatu dan pengaruhnya atas hidup manusia) yang diterapkannya dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi. Sistem ini niscaya memiliki arti esoterik, karena kemudian telah menjadi pendahulu penulisan jalannya reaksi kimia.
Jelas dengan ditemukannya proses pembuatan asam anorganik oleh Jabir telah memberikan arti penting dalam sejarah kimia. Di antaranya adalah hasil penyulingan tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan asam sulferik. Pelbagai jenis asam diproduksi pada kurun waktu eksperimen kimia yang merupakan bahan material berharga untuk beberapa proses industrial. Penguraian beberapa asam terdapat di dalam salah satu manuskripnya berjudul Sandaqal-Hikmah (Rongga Dada Kearifan).
Seluruh karya Jabir ibnu Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang sampai pada zaman Renaissance. Korpus studi kimia Jabir mencakup penguraian metode dan peralatan dari pelbagai pengoperasian kimiawi dan fisikawi yang diketahui pada zamannya. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al Hikmah Al Falsafiyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul Summa Perfectionis.
Suatu pernyataan dari buku ini mengenai reaksi kimia adalah: "Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap.
Yang benar adalah bahwa keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama. Jika dihendaki memisahkan bagian-bagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur."
Ide-ide eksperimen Jabir itu sekarang lebih dikenal/dipakai sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, nonmetal dan penguraian zat kimia. Dalam bidang ini, ia merumuskan tiga tipe berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya:
  1. Air (spirits), yakni yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan camphor, arsenik dan amonium klorida,
  2. Metal, seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi, dan
  3. Bahan campuran, yang dapat dikonversi menjadi semacam bubuk.
Dengan prestasinya itu, dunia ilmu pengetahuan modern pantas 'berterima kasih' padanya.


Pangeran dan Filsuf
Di abad pertengahan risalah-risalah Jabir di bidang ilmu kimia --termasuk kitabnya yang masyhur, yakni Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab'een, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Kitab Al-Kimya bahkan telah diterbitkan oleh ilmuwan Inggris, Robert Chester tahun 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Buku kedua (Kitab Al-Sab'een), diterjemahkan juga oleh Gerard Cremona.
Berikutnya di tahun 1678, seorang Inggris lainnya, Richard Russel, mengalihbahasakan karya Jabir yang lain dengan judul Summa of Perfection. Berbeda dengan pengarang sebelumnya, Richard-lah yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber, dan memuji Jabir sebagai seorang pangeran Arab dan filsuf. Buku ini kemudian menjadi sangat populer di Eropa selama beberapa abad lamanya. Dan telah pula memberi pengaruh pada evolusi ilmu kimia modern.
Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah; Kitab al Rahmah, Kitab al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance (ketiga buku terakhir diterjemahkan oleh Berthelot). "Di dalamnya kita menemukan pandangan yang sangat mendalam mengenai metode riset kimia," tulis George Sarton. [mediaumat]

Selasa, 10 Januari 2012

PERBAIKAN KELAS XI IPA

Membuat soal dan jawaban dari semua bab semester ganjil:

1. Mekanika kuantum

2. Termokimia
3. Laju reaksi
4. Kesetimbangan Kimia 

KETENTUAN :
1. Masing-masing BAB membuat 5 soal
2. Ditulis sumbernya (Pengarang dan halamannya)
3. Tidak diperkenankan mengambil contoh soal dari buku paket dan LKS
4. Di kerjakan di Folio Bergaris
5. Dikumpulkan maksimal tgl 18 jam 12.00  WIB

Senin, 09 Januari 2012

EMANSIPASI DALAM PANDANGAN ISLAM

EMANSIPASI DALAM PANDANGAN ISLAM

“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada All`h yang dengan [mempergunakan] nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan [peliharalah] hubungan silatur-rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.[QS. 4:1]
Siapa kira Ibunda Hawwa akan menjadi titik permasalahan? Hanya karena Rasulullah menyebut beliau berasal dari tulang rusuk Adam a.s. Setiap muslim dan muslimah memahami betapa tingginya nilai informasi hadits Rasulullah. Apalagi bila ia diriwayatkan oleh ‘As-Shahihain’ Bukhari dan Muslim.
Tapi, nyatanya, ada saja orang berkilah dengan informasi itu untuk memojokkan pandangan Islam terhadap wanita. Seakan-akan ingin mencari biang keladi masalah secara filosofis. Padahal hasilnya hanya pandangan yang dungu dan menampakkan kejahilan terhadap hakikat atau essensi Islam.
Lantas, bila bukan dari tulangrusuk Adam, wanita itu dari mana? Adakah yang dapat menjelaskannya selain dari Allah dan Rasul-Nya? Al-Quran menjelaskan bahwa :
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal [QS. 49:13]
Semua pembicaraan ini menyangkut penjelasan Allah tentang kejadian hidup manusia yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Artinya, konteks pembicaraan diarahkan untuk menjelaskan asal-usul manusia yang satu. Sehingga, sikap kesukuan [ kebangsaan ] tidak dibenarkan mendominasi hidup seseorang.
Secara tidak langsung, surat Al-Hujarat: 13 di atas memang menyinggung pula tentang kedudukan wanita. Namun bukan berhubungan dengan hadits yang bersumber dari Rasulullah. Tinjauan ayat itu adalah kesertaan kaum Hawwa membangun manusia dan peradabannya di seluruh bangsa.
Dengan kata lain, Islam tidak pernah merendahkan derajat manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Islam hanya memiliki satu mata uang yang berlaku dalam membeda-bedakan manusia, yaitu takwa.
Alangkah anehnya bila ada orang yang ingin mengutak-ngatik pandangan Islam terhadap kaum wanita. Padahal, dua ayat diatas [ An-Nisa:1 dan Al-Hujurat: 13 ] justru ingin menunjukkan betapa terjalin kerjasama pria dan wanita dalam berperan membentuk kehidupan di muka bumi.
Juga tidak lucu jika ayat yang menyebutkan, 'Dan daripadanya Allah menciptakan isterinya,' kemudian dianggap sebagai merendahkan derajat wanita hanya karena Rasulullah menafsirkan kata 'daripadanya' dengan tulang rusuk Adam. Lupakah kita, siapakah yang berbicara itu? Dia adalah utusan Allah, yang mendapat informasi akurat tentang segala tentang segala hal yang perlu disampaikan dari Yang Mengutusnya [Allah]. Adapun tentang kedudukan wanita di samping pria, Rasulullah saw. menerangkan
lebih jauh dalam hadits, ' Wanita adalah belahan separo [yang sama] dengan pria.'[HR. Abu Dawud dan Ahmad]

Mengembalikan Wanita Pada Fitrahnya.
Yang berbeda pada kedua jenis Makhluk Allah ini [pria dan wanita] adalah fungsi dan usahanya.
Tentang perbedaan fungsi ini, Allah berfirman, 'Dan anak laki-laki tidaklah sama dengan anak wanita [Ali Imran:36]
Siapapun tidak akan memungkiri bahwa keadaan fisik pria dan wanita itu jauh berbeda, bahkan berlawanan. Siapapun tahu bahwa wanita diciptakan Allah penuh kelembutan, halus, dan peka terhadap keadaan lingkungannya. Keadaan ini membuat mereka cocok untuk tugas yang halus dan lembut seperti membelai dan menyayangi anak....Sementara, laki-laki kokoh dan kuat sehingga lebih memungkinkan bekerja keras dan berat. Karena keadaan fisik ini pula, masing-masing lelaki dan wanita mempunyai fungsi dan peran khusus yang sama sekali berbeda dan tidak akan pernah sama.
'Dan [demi] penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya keadaan [dan usaha] kamu sungguh berbeda.'[Al-Lail: 3-4]

Kendati berbeda, pria dan wanita saling membutuhkan sehingga harus bekerjasama secara benar dan sah, dijalin dengan hubungan kasih yang suci dan murni. Maka, Islam mengatur batas-batas hubungan pria dan wanita, pernikahan, dan rumah tangga dengan cukup detail. Karena, hal ini dipandang sebagai masalah asasi yang harus diselesaikan sejak dini.
Karena perbedaan fungsi pula, tidak mungkin pria dan wanita berada dalam pos yang sama. Bila ada yang seperti itu, jelas ini merupakan penyimpangan dari fitrah dan sunatullah. Lagi pula, perbedaan fungsi ini bukanlah untuk dipersoalkan. Karena hal itu merupakan bagian dari kekuasaan Allah yang mutlak. Di sinilah letak keagungan firman Allah,
' Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu, lebih banyak daripada sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan juga ada bagian dari apa yang mereka usahakan.' [An-Nisa: 32]
Islam datang untuk mengarahkan potensi wanita sesuai dengan fungsi dan pembawaan fisiknya. Karena itu, datanglah syariat yang mengatur dimana wanita harus ditempatkan. Tugas kaum wanita di rumah, bagi Islam merupakan prinsip dan tugas vital yang tidak boleh ditinggalkan.Karena, di rumahlah perannya sungguh-sungguh dapat diharapkan dan terealisir dengan nyata. Hak dan kedudukan wanita diberikan Islam sesuai dengan fitrahnya. Rasulullah saw. berpesan kepada para ayah, 'Sama ratakan pemberianmu kepada anak-anakmu. Jika aku akan mengutamakan yang satu terhadap yang lain, tentu aku akan mengutamakan pemberian kepada yang perempuan. '[HR. At-Thabrani]
Kepada para suami [pria], Rasulullah saw. menyatakan, 'Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku. Orang yang memuliakan kaum wanita adalah orang yang mulia, dan orang yang menghina kaum wanita adalah orang yang tak tahu budi.'[HR. Abu Asakir]
Kalau boleh memandang secara adil, kita bisa mengklaim bahwa ternyata kaum wanita di tengah-tengah masyarakat Islam itu mempunyai citra dan warna tersendiri. Sebagai gadis pingitan yang suci, mereka dijaga oleh kaum laki-laki karena dipandang salah satu bagian penting dari hidupnya. Sebagai isteri, mereka senantiasa mendapat perlindungan dari suaminya. Sebagai kakak atau adik, dihormati oleh saudara laki-lakinya.
Meskipun mereka termasuk keluarga kaya, namun sang suamilah yang harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan materi wanita. Karena itu, kaum ibu dalam keluarga Islami nampak cerah ceria jika dikelilingi putera-puterinya dan dikerumuni cucu-cicitnya. Sebab, dialah yang berhasil menjaga dan melindungi keberadaan mereka dengan siraman cinta dan belaian kasih yang mesra.
Ibu adalah penghasil generasi. Bila ada seribu ulama Islam, maka sesungguhnya dibelakang itu mesti ada seribu wanita yang muliakan oleh ulama tersebut. Karena ada sebuah sabda Rasulullah, berkenaan dengan hal ini, yaitu :'Seorang sahabat bertanya,'Ya Rasulullah, siapakah yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?' Nabi saw. menjawab, 'Ibumu.....ibumu....ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu.'[Mutaffak Alaih]
Dari itu, Islam menuntut kaum wanita untuk menghabiskan sebagian besar waktunya dalam membina rumah tangga dan tidak diperkenankan mengelak apalagi meninggalkan tugas yang prinsip ini. Terkecuali dalam tuntutan situasi dan kondisi yang benar-benar mendesak dan sangat terpaksa. Sedangkan laki-laki menurut prinsip dasarnya mempunyai tugas dan tanggung jawab di luar rumah. Jika ternyata kedua kutub tugas ini menjadi rancu, maka yang bakal terjadi adalah api pergolakan yang memercik di rumah tangga, terus merambat pada tatanan kehidupan bermasyarakat, dan pada akhirnya akan menggerogoti seluruh sistem kehidupan sosial yang lebih luas.
Merendahkan dan Melecehkan Wanita
Posisi Kaum Wanita di tengah-tengah masyarakat kita, kaum muslimin, tidak pernah menjadi impian wanita-wanita Barat, baik itu dalam kapasitasnya sebagai anak, isteri, maupun berstatus sebagai ibu. Mata mereka telah disilaukan oleh materi sehingga tidak mampu lagi melihat kedalam fitrah dan kesucian hatinya sendiri. Bila kita lihat secara objektif, ternyata wanita-wanita Barat itu sejak masih remaja memang direkayasa sebagai isteri yang senantiasa dituntut untuk bekerja keras lagi berta, banting tulang dan tidak kerasan di rumah gara-gara ingin membuktikan kelebihannya di hadapan sang suami atau ingin ikut andil dalam meringankan bebannya.
Jika tidak demikian, mereka akan merasa kehilangan jati diri dan identitas, bahkan tidak akan berharga lagi di mata masyarakat. Wanita yang karena terpaksa masih tetap mempertahankan dan konsisten dengan nilai-nilai keibuan akan dikucilkan di panti-panti jompo, dicampakkan dan dititipkan oleh putera-puterinya di lembaga-lembaga sosial. Hanya sedikit jumlah wanita yang sadar dan menjerit akibat kesengsaraan dan penderitaan eksploitasi habis-habisan kaum pria. Ungkapan Lady first yang populer itu sebenarnya hanya Lip service yang kenyataannya telah meluluhlatakkan fitrah kaum wanita. Wanita Barat adalah pajangan yang dihargai dari kemolekan dan kecantikan, bukan oleh prestasi dan partisipasi mereka. Pelecehan seksual yang mereka terima di kantor-kantor atau di pabrik-pabrik menunjukkan hal ini. Demikian juga peran mereka sebagai alat-alat promosi melalui film, televisi, radio, majalah, koran, dan media massa lainnya. Wanita barat telah sesuai dengan gambaran junjungan kita ' Wanita adalah alat perangkap [ penjaring syetan ] ' [ HR. As-Syihab ]
Kita lihat sabda Rosulullah saw. : 'Tiada aku meninggalkan suatu fitnah sesudahku yang lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada godaan Wanita [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Sebenarnya wanita-wanita barat itu sangat tertindas. Seandainya mereka menyadari status dan hakekat jati dirinya , sudah pasti mereka akan memberontak dan melancarkan berbagai protes terhadap kaum lelaki yang telah merampas hak-hak asasi mereka. [dr berbagai sumber]